Ingin Startup Tetap Eksis, Developer Muda Wajib Hindari 5 ‘Penyakit’ Ini


Published 14 Feb 2019 6:07

TheNextDev.id – Banyak developer muda yang kemudian jadi visioner dan membawa startupbesutannya meraih kesuksesan. Namun terlepas dari keunggulannya dalam hal semangat, passion, dan energik, nggak jarang mereka tersandung ‘penyakit’ klasik yang menghinggapi entrepreneur. Untuk menekan risiko kegagalan, kenali beberapa gejala yang akan membawa startup-mu ke jurang kegagalan.

Tak Punya Perencanaan

Kebanyakan developer muda memulai startup tanpa uang yang cukup dan melakukan transaksi atas asa kepercayaan semata. Mereka juga jarang mempertahankan anggota tim kunci yang dapat keluar kapan saja dengan membawa ide dan menggondol usernya.

Selain itu, beberapa tak segan membagikan saham dan nggak menyisakan apa pun bagi investor. Tak lama, satu-satunya surat yang diterima adalah tagihan dan tuntutan hukum. Bermimpilah semaumu, tapi sebaiknya mulai dengan cukup uang untuk melakukan berbagai hal dengan cara yang benar, jika ingin meraih sukses.

Lakukan Hal Ilegal

Seringkali founder muda nggak mengenal hukum, bahkan kurang mempedulikan betapa pentingnya aspek tersebut bagi perkembangan startup. Saking ingin meraih sukses, nggak sedikit yang memilih untuk menabrak aturan atau melakukan hal-hal yang mereka tahu melanggar undang-undang yang ada.

Berhati-hati dan mengelola risiko itu perlu. Artinya, sebanyak mungkin hindari risiko yang berkaitan dengan hukum misalnya membuat kontrak untuk mengamankan perjanjian hingga mendaftarkan hak cipta.

Terlalu Gampang Membuang Bisnis

Kebanyakan entrepreneur memilih menyingkirkan masalah besar yang dihadapi dengan menjual bisnis yang telah dibangunnya. Tapi hal ini ternyata nggak menyelesaikan masalah, walau sudah menemukan pembeli.

Bisa saja perjanjian tersebut batal kemudian kembali menghantuimu dengan perjanjian sewa-menyewa, pinjaman bisnis, hingga kewajiban sewa real estat yang jauh lebih berat. Solusinya adalah membuat semua pihak menyetujui keputusanmu, dengan menyelesaikan semua tanggungan baik pada pihak yang menyewakan atau investor.

Tak Tahu Nilai Kontrak yang Baik

Banyak developer yang terburu-buru dan melewati beberapa detil seperti kontrak. Mereka akan mengambil beberapa kontrak acak yag digunakan oleh bisnis lain. Startup terkadang lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk berbelanja perangkat lunak, furnitur terbaru atau mempercantik ruang istirahat.

Tapi, sedikit yang menghabiskan waktu untuk melihat kembali kontrak atau perjanjian yang mencakup risiko paling penting. Tak masalah mengeluarkan sedikit dana dan dapatkan perjanjian yang bagus. Itu lebih baik daripada menghemat di depan tapi kemudian membayar lebih banyak di kemudian hari.

Tergesa-Gesa

Startup seringkali terburu-buru menaklukkan dunia sehingga mengabaikan tindakan pencegahan dasar dan gagal melindungi bisnisnya. Mereka rentan terhadap serangan dari peretas, nggak melakukan pemeriksaan latar belakang pada karyawan baru, tak memiliki cadangan tunai, dan tak memiliki rencana darurat untuk hal-hal buruk.

Hindari terburu-buru melakukan transaksi besar atau mengakuisisi startup lain tanpa melakukan uji terlebih dahulu. Jika masalah ini terabaikan, bahkan kontrak terbaik pun sulit menyelamatkan startupmu.

Risiko kegagalan startup memang cukup besar, tapi bukan berarti menghalangi impianmu merintis perusahaan digital.