Mengenal Fintech Syariah dan Perbedaannya dengan Konvensional


Published 28 Jul 2020 17:48

Fintech merupakan inovasi dalam bidang keuangan yang mengubah transaksi yang tadinya uang kertas menjadi digital agar lebih efisien. Secara umum, fintech yang kita gunakan adalah fintech konvensional, tetapi ada produk lainya yaitu Fintech Syariah. Ada tiga prinsip yang harus dimiliki Fintech Syariah yaitu tidak boleh maisir (bertaruh), Gharar (ketidakpastian), dan riba (jumlah bunga melewati ketetapan).  Lantas perbedaan Fintech Konvensional dan Fintech Syariah adalah : 

1.Suku Bunga 

Dalam pembiayaan konvensional, kredit yang diberikan kepada konsumen dibuat sebagai akad pinjaman sehingga nasabah nantinya memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut beserta bunga yang ditentukan oleh peminjam (fintech konvensional), tergantung pada besarnya pinjaman yang diambil.Sedangkan pada pembiayaan keuangan syariah, dimana bunga merupakan hal yang tidak diperbolehkan karena dalam bunga terdapat unsur riba. Dalam pembiayaan syariah, tidak akan menjumpai kredit

2.Resiko dan Cicilan

Ketika nasabah mengajukan pinjaman secara konvensional, nasabah akan menanggung sepenuhnya resiko ketika nasabah tidak memiliki kemampuan untuk membayar cicilannya. Hal ini berbeda dengan sistem pembiayaan dengan akad syariah kedua belah pihak baik Fintech atau pun nasabah akan menanggung resiko tersebut.

3.Ketersediaan Pinjaman

Pada pembiayaan syariah menggunakan penawaran produk untuk keperluan tertentu. Dalam hal ini tidak ada dalam pembiayaan keuangan konvensional seperti untuk pendidikan, haji dan umroh, ataupun lainnya.

Indonesia memiliki potensi besar untuk perkembangan fintech baik berbasis syariah maupun konvensional. Indonesia juga merupakan digital ready country dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar. Dengan modal teknologi inilah, fintech syariah mampu meningkatkan jangkauan pasar keuangan syariah sehingga literasi dan inklusi keuangan syariah dapat terus meningkat.